These are my works ^-^

Kamis, 19 Januari 2017

Kau-kah Pejuang sejati itu?


 
Pejuang itu bermental baja, bukan bermental tempe. Pejuang itu sigap, tangkas, dan berjiwa besar. Pejuang itu tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, namun juga orang lain. Pejuang itu tidak berfokus pada perasaannya melulu, namun berjuang untuk memecahkan permasalahan orang lain dengan solusi yang cemerlang.
Lantas pantaskah kau disebut sebagai pejuang? Jika kau masih sering galau karena sesuatu yang tidak penting, tak acuh pada sekitar, berfokus pada diri sendiri bahkan hanya memikirkan kesenangan diri sendiri. Pantaskah kau disebut bermental baja? Jika kau masih sering sakit hati gara-gara hal yang sepele.
Aku memang bukan orang yang sempurna, mungkin saja aku adalah salah satu diantara mereka. Aku hanya ingin ‘menampar’ diri sendiri dan memotivasi diri sendiri untuk menjadi yang lebih baik.
Wahai diri, yang dipundakmu begitu banyak pengharapan, jangan kau melalaikan masa emas mu. Jangan kau sibuk dengan hal-hal yang dapat menjerumuskanmu ke arah maksiat. Fokuslah dalam menatap masa depan, melakukan perubahan mendasar sampai ke akar-akar.
Hai, pejuang! Sang revolusioner handal harapan masa depan. Ditanganmulah perubahan akan terwujudkan. Ayo, bangkit!
Kau tahu bahwa aku berupaya sekuat mungkin, mematri segala motivasi demi sebuah kata ‘perubahan’. ‘Aku-kah pejuang sejati itu?’ ataukah ‘Aku-lah pejuang sejati itu! Tinggal pilih saja, karena hidup itu pilihan. Memilih sebuah pertanyaan yang penuh keraguan ‘Aku-kah pejuang sejati itu?atau memilih sebuah statement tegas ‘Aku-lah pejuang sejati itu!semua ada di tanganmu.


-sth







Long Time No See ^_^



Waahh… it has been a long time I don’t write in this blog. Yap, since I had too much things to be done. But it couldn’t be a reason for me to stop writing.
Yes, today I don’t want to share the new writing from me. I just want to publish the old writings that have been done a long time ago.. 

Just wait the next posts… ^_^



Kamis, 04 Juni 2015

The Sacrifice



The Sacrifice
Oleh: Selli Tiolita Hasibuan

Langkah kakinya tegas melewati koridor kampus. Seperti biasa, ia menyempatkan diri untuk sekadar membaca mading untuk mengetahui informasi terbaru di kampusnya. Tas ranselnya menggembung, sepertinya mata kuliah hari ini sangat padat. Bahunya yang kekar tentu saja mampu menanggung beban yang tak seberapa itu. Ia membenarkan letak kacamatanya agar dapat membaca dengan nyaman.
 Seketika matanya tertuju pada satu kertas pengumuman. Ia membacanya dengan cermat dan tersenyum simpul. Tampaknya itu adalah sesuatu yang tidak biasa. Ia membaca pengumuman itu dengan seksama dan penuh dengan konsentrasi.
“Baca apa, San?”
Wawan, yang merupakan teman sekelasnya menepuk pundaknya dari belakang.  Lantas ia tersentak dan langsung menoleh.
“Ini, Wan, ada beasiswa S2 ke Australia. Kita kan tahun ini wisuda, jadi gak ada salahnya kan kalau kita mencoba melanjut ke jenjang studi selanjutnya?”
“Iya, San. Aku juga ada niat mau nyambung S2, San. Tapi kayaknya mau ngambil di dalam negeri aja. Ya sudah, aku masuk dulu ya. ”
“Oke, Wan.”
Ia kembali membaca pengumuman itu dan mengambil android dari saku celananya. Ia mencatat hal-hal penting di notes androidnya. Ia bergegas memasuki kelas, jam tangan hitamnya telah menunjukkan angka 07.28 sementara kelas akan dimulai pada pukul 07.30. Ia melangkah dengan tegas menuju ruang kelasnya di lantai tiga.
Sudah hampir sepuluh menit mereka di ruangan, namun dosen mereka belum juga datang. Hasan yang merupakan komisaris di kelasnya segera menuju ke depan kelas dan memanggil satu per satu nama yang ada di absensi kelas mereka. Setelah itu ia memberikan info yang ia baca di mading kepada teman-temannya.
“Guys, udah pada baca info yang ada di mading?”
“Info apa, San?”
Rafa yang duduk di bangku nomor dua dari depan segera menyucurkan tanya.
“Tadi Hasan baru baca mading, ternyata ada beasiswa ke Australia. Cuma mau bagi info aja ke teman-teman, manatau ada yang berminat untuk ikut.”
Seisi kelas mulai riuh. Hasan dihujani puluhan pertanyaan dari teman-temannya.
“Udah, gini aja. Nanti setelah selasai kelas ini, kalian lihat aja mading yang ada di lantai satu di depan Open Stage. Disitu ada info lengkapnya. Oke.”
Thanks ya, San.”
“Sipp!”

***

Hasan pulang dengan perasaan bahagia. Ia tak sabar untuk memberitahukan kabar gembira ini kepada ibunya. Pasti ibunya akan sangat senang mendengar kabar dari Hasan.
          “Assalamu’alaikum, bu.”
          Ia mendapati pintu yang tidak terkunci dan segera memasuki rumah. Ternyata ibunya sedang memasak di dapur. Ia mengucapkan salam kepada ibunya dan duduk di meja makan.
          “Kok tumben pulangnya cepat, nak? Baru jam 12 sudah pulang.”
          Wajah tua ibunya diselimuti oleh kepulan asap masakan.
          “Ibu masak apa?”
          Hasan memegang perutnya yang menandakan bahwa ia sudah kelaparan.
“Hasan sudah lapar ini bu. Bau masakan ibu membuat cacing-cacing yang ada di perut Hasan jadi kelaparan.”
          “Kamu itu loh, San. Bilang aja kalau kamu mau makan.”
          Ibunya tersenyum menanggapi candaan anak laki-lakinya itu. Hasan memang suka bercanda dengan ibunya. Karena ibu-lah yang satu-satunya ia punya saat ini.
          “He he, ibu tau aja. Bu, Hasan mau ngasih kabar gembira untuk ibu.”
          “Kabar gembira apa, nak?”
          Ibunya segera duduk di samping putra semata wayangnya itu.
          “Bu, Hasan dapat beasiswa S2 ke luar negeri, bu.”
          Hasan dengan bangga menunjukkan surat pernyataan kelulusan kepada ibunya. Ibunya perlahan membukanya dan membaca isi surat tersebut.
          “Australia? Kamu mau kuliah di Australia, nak?
          “Iya, bu. Hasan udah diterima dan besok mau wawancara, bu.”
          Ibunya terdiam, air wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam. Putra semata wayangnya akan meninggalkannya sendiri.
          “Ibu kenapa? Kok sedih? Hasan bakalan kuliah ke luar negeri, bu. Pasti ibu bangga kan?”
          “Iya, nak. Ibu sangat bangga sama kamu, nak.”
Ibunya langsung pergi menuju ruang tengah dan meninggalkan Hasan sendiri di meja makan.
“Ibu kenapa, bu?”
Hasan menghampiri ibunya yang sedang duduk di teras rumah sambil merenung. Mata ibunya sembab, sepertinya ibunya baru saja menangis.
“Nggak kenapa-kenapa kok, nak. Ibu sangat bangga kamu bisa mendapat beasiswa ke luar negeri, nak.”
“Ia, bu. Hasan pasti bakal membuat ibu bangga. Hasan janji, bu. Oh iya bu, Besok Hasan berangkat ke Jakarta, bu. Ada pembinaan yang harus dilakukan disana.”
“Iya, nak, ibu akan selalu mendo’akanmu.”
“Makasih ya bu. Hasan sayang banget sama ibu. Hasan janji akan membanggakan ibu dan membuat ibu tersenyum. Hasan janji, bu.”
Hasan segera kembali ke kamar dan membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke Jakarta besok. Ia harus tiba di bandara pukul 07.00 pagi, sehingga ia harus segera bergegas malam ini.
Ia sangat bahagia karena mimpinya untuk melanjut S2 ke luar negeri segera terwujud. Tinggal menghitung beberapa hari lagi ia akan segera tiba di Australia. Ia tak sabar untuk meneguk manisnya ilmu di Negeri Kangguru itu.

***

Suara alarm membangunkannya dari tidur yang lelap. Ia segera bergegas mengambil wudhu’ untuk melaksanakan Sholat Tahajjud. Ia berdo’a kepada Allah untuk memudahkan langkahnya dan memberikan yang terbaik untuknya.
Setelah sholat, ia berniat membangunkan ibunya untuk melaksanakan Sholat Tahajjud. Namun saat ia ingin mengetuk pintu kamar ibunya, ia mendengar suara tangisan ibunya.
“Ya Allah, betapa putraku sangat bahagia karena Engkau mudahkan jalannya untuk meraih mimpi-mimpinya. Tapi Ya Allah, apakah hamba yang sudah tua ini harus tinggal sendiri? Namun betapa ia sangat bahagia, Ya Allah. Itu adalah mimpi terbesarnya selama ini. tolong mudahkan jalannya dalam meraih mimpi-mimpinya, Ya Allah.”
Seketika jantungnya bergemuruh. Ia bagaikan tersambar petir di tengah badai. Ia tersadar akan sesuatu yang terlupakan. Ia tersadar bahwa ada sosok yang lebih berharga dari segala-galanya yang harus ia jaga dan lindungi. Namun mengapa ibunya tidak melarangnya untuk pergi? Mengapa ibunya tidak menyatakan penolakan terhadap kepergian Hasan?
Air matanya menetes. Ia duduk di ruang tamu menunggu ibunya selesai shalat. Tak lama kemudian ibunya keluar dari kamarnya dan mendapati putranya sedang duduk di ruang tengah.
“Sudah mau berangkat, San? Kok cepat sekali?”        
Hasan segera menghampiri ibunya dan mencium kaki ibunya.
“Ibu, maafkan Hasan. Hasan gak akan pergi ke Australia, bu. Hasan gak akan ninggalin ibu sendiri. Hasan akan tetap menemani ibu disini, ibu jangan khawatir ya, bu.”
Ibunya heran melihat perilaku putranya.
“Loh, kamu kenapa, nak? Kok tiba-tiba membatalkan keberangkatan ke Australia? Itu kan mimpimu dari dulu, nak?”
“Gak, bu. Hasan gak mau pergi ke Australia. Hasan cuma mau disini menjaga dan merawat ibu. Maafkan Hasan ya bu, karena gak mikirin ibu. Hasan memang egois, bu. Maafkan Hasan ya, bu.”
“Ya Allah, anakku. Semoga apa yang kamu korbankan diganti dengan yang lebih baik oleh Allah, nak.”
Mereka hanyut dalam kesedihan masing-masing. Itulah ibu, ia akan sebisa mungkin membuat anaknya bahagia, walaupun hatinya terluka.